oleh R. Hardyanta, dibaca: 40 kali
Apa sih “Presenteeism”?
Sederhananya adalah suatu kondisi kurang sehat atau fit yang dibawa ke tempat kerja. Karyawan tetap hadir dan datang ke tempat kerja meskipun mereka merasa kurang sehat, mengalami rasa sakit secara fisik atau emosi atau sedang mengalami situasi tekanan yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk fokus atau berkonsentrasi.
Dalam situasi seperti ini, karyawan mencoba untuk bekerja meskipun mengalami masalah tersebut dan akibatnya hari itu menjadi tidak produktif dibandingkan hari lain dimana karyawan dalam keadaan sehat.
Oleh karena karyawannya hadir dan bekerja, sangat sulit bagi atasannya untuk melihat adanya perbedaan hasil kerja atau produktivitas, tidak sejelas seperti bila karyawannya tidak hadir.
Apa penyebab “Presenteeism”?
Beberapa faktor penting yang bisa menyebabkan terjadinya “presenteeism” pada seorang karyawan.
1. Faktor-faktor Terkait Kesehatan:
- Sakit secara fisik. Karyawan tetap datang ke tempat kerja meski sedang sakit (seperti batuk, flu, migren) karena khawatir ada yang belum terselesaikan atau khawatir kehilangan waktu cuti. Kondisi kronis, seperti alergi, nyeri sendi atau sakit punggung juga secara signifikan akan mengganggu kinerja.
- Isu terkait gejala kesehatan mental. Stress, rasa cemas dan depresi bisa sangat mempengaruhi konsentrasi dan performa kerja sehingga menjadi kurang produktif. Burnout atau stress kronis, kondisi emosi tidak stabil, kelelahan fisik & mental adalah penyebab terbesar terjadinya “presenteeism”.
Get time off & [good rest]
2. Budaya & Tekanan di Tempat Kerja.
- Ketidakamanan pekerjaan. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan mendorong karyawan tetap bekerja meskipun sedang kurang sehat, demikian juga akan merasa tertekan untuk tetap menunjukkan komitmen.
- Beban kerja yang berat dan tenggat waktu. Hal ini bisa memaksa karyawan sekalipun sakit atau lelah.
- Kurangnya waktu cuti sakit. Karyawan yang tidak memiliki waktu cuti sakit merasa terpaksa harus bekerja untuk mencegah kesulitan finansial.
- “Presenteeism Culture”. Di beberapa tempat kerja menumbuhkan budaya bekerja berjam-jam atau waktu yang panjang dan mereka yang selalu melakukannya akan dihargai meskipun dengan risiko mengganggu kesejahteraan karyawan. Hal ini bisa menciptakan tekanan baik secara eksplisit maupun implisit agar terlihat tetap bekerja sekalipun tidak menghasilkan apa-apa.
- “Digital Presenteeism”. Sejalan dengan semakin seringya bekerja jarak jauh, maka terjadi apa yang yang disebut dengan “digital presenteeism”, dimana karyawan merasa mereka harus selalu tampil secara daring (online), selalu ada bahkan sampai diluar waktu bekerja yang normal.
3. Faktor Personal dan Finansial.
- Tekanan finansial. Karyawan yang sedang berjuang secara finansial akan merasa bahwa mereka tidak mampu untuk mengambil waktu istirahat.
- Rasa kewajiban. Beberapa karyawan merasakan kewajiban yang kuat atau mengikat terhadap tim atau organisasinya, sehingga enggan mengambil waktu istirahat.
- Kesulitan melepaskan diri (Difficulty Disconnecting) dari pekerjaan, bahkan disaat mereka sedang sakit.
Pada dasarnya, “presenteeism” sering disebabkan oleh kombinasi dari faktor-faktor masalah kesehatan individu, tekanan di tempat kerja dan kondisi personal. Memahami semua faktor penyebab tersebut sangatlah krusial bagi Perusahaan untuk mencari tahu dan menciptakan lingkungan bekerja yang sehat dan produktif.
Get time off & [good rest]
Bagi individu karyawan, mengenali serta menyadari adanya faktor-faktor penyebab merupakan tantangan sangat besar yang tentunya sangat penting dikuti dengan dorongan kesadaran dalam diri serta keterbukaan untuk belajar & mencari tahu Solusi yang diperlukan.
Bacaan lanjut:
- https://hbr.org/2004/10/presenteeism-at-work-but-out-of-it
- https://www.investopedia.com/terms/p/presenteeism.asp
- https://www.currentware.com/blog/absenteeism-and-presenteeism
Kembali