Hustle-Culture: Glorifikasi Budaya Workaholic yang Berbahaya

image

oleh dr. Emilya Kusnaidi, SpKJ, dibaca: 360 kali

Hustle-culture telah menjadi fenomena yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan milenial yang memiliki semangat dan ambisi kerja yang begitu tinggi sehingga timbul pertanyaan tentang motivasi mereka. Hustle culture atau dikenal dengan workaholism pertama kali dikenalkan oleh Wayne Oates dalam bukunya yang berjudul ”Confessions of a workaholic : the facts about work addiction” pada tahun 1971. Hustle culture merupakan sebuah gaya hidup baru di kalangan milenial yang menganggap dirinya akan sukses jika terus melakukan pekerjaan dan memiliki sedikit waktu untuk beristirahat.

 

Beberapa penelitan yang telah ada menyebutkan bahwa budaya ini dapat berpengaruh negatif bagi berbagai aspek kehidupan pelakunya, seperti kesehatan, kebahagiaan, hingga hubungan sosial dengan masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Molino et al. (2016) kepada 617 pekerja di Italia yang menemukan bahwa budaya hustle culture berkorelasi negatif dengan kualitas kehidupan keluarga, kesehatan, dan pekerjaan. Gaya hidup hustle culture ini berdampak buruk terhadap kesehatan seseorang, baik fisik, maupun mental. Seseorang mungkin menunjukkan kelelahan fisik dan emosional, menjadi sinis, mudah marah, bekerja dengan tidak efektif, dan menurunnya pencapaian kerja. Gejala umum termasuk perasaan apatis dan putus asa, menjadi pesimis, hilangnya nafsu makan juga kerap muncul. Jadi, dengan mengingat hal ini, berikut adalah beberapa tips untuk berjaga-jaga agar tidak overworking:

 

1. Tetapkan batasan yang tegas

Baik Anda bekerja di kantor maupun di rumah, tetapkan batasan yang tegas antara mana yang merupakan area kerja Anda dan mana yang bukan. Terutama jika Anda WFH, alokasikan ruangan atau space tertentu untuk bekerja, agar sisa dari rumah Anda tetap terasa seperti rumah.

 

2. Menyusun prioritas dan fokuslah hanya pada tugas yang benar-benar penting

Jangan buang waktu Anda mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan dua minggu lagi. Bukannya membiarkan tugas menumpuk, tapi justru memberikan struktur pada waktu kerja Anda. Dengan membuat daftar priritas, Anda mengalokasikan waktu untuk diri Anda sendiri juga.

 

3. Berani katakan “Tidak”

Jika Anda dihadapkan dengan tugas yang sesungguhnya tidak perlu dilakukan, entah itu sesuatu yang bukan bagian dari pekerjaan Anda, atau tugas sampingan yang dibebankan pada Anda, beranikan diri untuk mengatakan tidak. Anda akan menyelamatkan diri Anda sendiri dengan menyingkirkan tugas-tugas yang tidak perlu Anda lakukan.

 

4. Minimalkan gangguan dalam pekerjaan

Gangguan bisa dalam bentuk apapun. Sosial media yang terus menelurkan notifikasi, grup- grup Whatsapp yang tidak penting, bahkan peliharaan tetangga yang sering berisik. Gunakan headphones dan dengarkan musik yang membangkitkan semangat kerja Anda, dan matikan notifikasi dari aplikasi-aplikasi di luar pekerjaan.

 

5. Jangan lupa ‘Me Time’

Sesekali, tak ada salahnya untuk mengambil hari libur dan memanfaatkannya untuk sekadar rileks di rumah memasak makanan dan streaming film-film favorit Anda. Waktu refreshing sangat penting untuk mengurangi kelelahan dan kepenatan kerja.

 

Bekerja memang penting, tapi waspadalah akan bahaya overworking. Bekerja berlebihan akan memberikan Anda stres yang memberatkan dan bahkan penyakit-penyakit yang tidak Anda inginkan. Oleh karena itu, atur area dan waktu kerja Anda dan jangan lupa alokasikan waktu untuk istirahat dan relaksasi!

 

Sumber:
1. Molino, Monica, Arnold B. Bakker, and Chiara Ghislieri. 2016. “The Role of Workaholism in the Job Demands-Resources Model.” Anxiety, Stress, & Coping 29 (4): 400–414. https://doi.org/10.1080/10615806.2015.1070833.
2. Oates, Wayne E. 1971. Confessions of a Workaholic: The Facts about Work Addiction. New York: World Pub. Co. 


Kembali

Artikel Lainnya

Sejira

Depresi Atau Burn out? Ternyata Berbeda, Ini Penjelasannya

oleh dr. Emilya Kusnaidi, SpKJ, dibaca: 299 kali

Belakangan, istilah burn-out menjadi populer di kalangan masyarakat. Istilah tersebut diciptakan pada 1970-an oleh ps... ..

Detail
image
Sejira

5 Faktor Utama Yang Mempengaruhi Kesehatan & Kesejahteraan Mental

oleh R. Hardyanta, dibaca: 433 kali

Sudah diketahui kalau kesehatan mental berperan esensial terhadap kesejahteraan hidup secara keseluruhan, dan banyak... ..

Detail
image
Sejira

Teknik Deep Breathing Relaxation: Simpel Namun Bermanfaat

oleh dr. Emilya Kusnaidi, SpKJ, dibaca: 367 kali

Deep breathing relaxation merupakan sebuah teknik pernapasan yang jika dilakukan secara maksimal, akan menstimulasi r... ..

Detail
image
SEJIRA
SEJIRA